Ada Buyback Saham, Investor Untung atau Buntung?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

GUEMUDA.COM, Jakarta – Dalam beberapa kali kesempatan, perusahaan-perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) kerap menyampaikan rencana aksi buyback saham. Sebagian besar melakukan aksi ini untuk memperbaiki harga saham perusahaannya yang terdampak guncangan ekonomi sehingga harganya terus merosot.

Bahkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pernah mengeluarkan kebijakan buyback tanpa persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS). Saat itu, OJK menilai aksi buyback perlu dilakukan perusahaan agar meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Mendengar istilah buyback, investor pemula akan kebingungan dan tidak tahu apa untungnya bagi dia sebagai pemegang saham. Padahal ini menjadi sentimen positif yang bisa kembali menggerakkan harga saham untuk naik.

Meski begitu, bagi sebagian perusahaan, buyback menjadi beban tersendiri karena harus merogoh kocek yang cukup dalam. Apalagi, jika kondisi keuangan perusahaan tersebut sedang tidak baik.

Terlepas dari itu, para investor seharusnya menyambut baik renana buyback saham oleh perusahaan. Dengan aksi ini, biasanya harga saham yang di-buyback bisa kembali membaik setelah merosot cukup dalam.

Secara sederhana, buyback berarti membeli kembali. Di sini, pembelinya adalah perusahaan yang menerbitkan saham. Saham yang dibeli ini pun yang telah beredar di publik atau yang selama ini diperdagangankan di BEI.

Bagi investor, aksi buyback saham juga akan membuat saham tersebut menjadi lebih likuid transaksinya. Untuk transaksi jual beli jadi lebih mudah dan volume rata-rata harian pasti meningkat.

Memang tak dimungkiri, dari sisi harga jual kembali saham ke pasar bursa biasa cenderung naik hingga level tertentu.

Meski begitu, ada satu catatan yang perlu kita ketahui dari aksi buyback perusahaan. Pertama, lihat harga buyback yang ditetapkan.

Dari sini, investor bisa memperkirakan apakah aksi ini bisa membuat saham tersebut naik atau justru tidak terpengaruh sama sekali.

Misalnya saja, saham ABCD mengalami penurunan harga dari Rp5.000 menjadi Rp3.500 dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Melihat kondisi itu, perusahaan ABCD berencana melakukan buyback dengan menetapkan harga buyback Rp3.200. Artinya, buyback bakal berlangsung saat harga saham ABCD menjadi Rp3.200.

Dari contoh itu, kita bisa memperkirakan bahwa harga saham ABCD masih berpotensi turun hingga Rp3.200 dari posisi saat ini Rp3.500. Dengan begitu, para investor pemilih saham ABCD sebaiknya tetap menunggu harga tersebut atau realisasi buyback perusahaan.

Sementara bagi investor yang baru akan membeli saham ABCD, maka sebaiknya menunggu harga saham tersebut mencapai level buyback.

Namun perlu diingat juga, setiap keputusan investasi harus mempertimbangkan berbagai hal. Terutama dengan melihat kinerja perusahaan tersebut. Ingat juga, setiap investasi memiliki risikonya masing-masing.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Event
About Us
Join Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin