Agar Aman Berbelanja Online

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

GUEMUDA.COM, Jakarta – Belanja secara online semakin menjadi kebiasan seiring menjamurnya platform e-commerce di Indonesia. Tuntutan perkembangan teknologi digital ini memang memudahkan masyarakat yang ingin melakukan jual dan beli produk.

Namun tidak semua pengguna belanja online paham adanya berbagai potensi kejahatan yang mengintai. Sehingga ada saja masyarakat yang tertipu beragam modus kejahatan siber saat melakukan transaksi online.

Mulai dari peretasan akun, pencurian data pribadi, hingga bisa sampai menguras dana di rekening kita.

Oleh karena itu, ada beberapa tips bagi kamu yang ingin aman dalam berbelanja online. Apa saja?

  • Jangan pernah berikan one time password (OTP) ke siapa pun untuk alasan apapun

OTP adalah kunci akses unik yang dibuat secara otomatis oleh sistem ketika ingin masuk ke akun di situs atau aplikasi online – dengan kata lain, OTP adalah pelindung akun pribadimu. Jika ada pihak yang mengatasnamakan entitas atau aktivitas tertentu dan menanyakan OTPmu, maka janji manisnya patut dicurigai.

  • Ganti password secara berkala

Pastikan password di setiap akun online berbeda, dan usahakan menggantinya secara berkala. Ini akan menjadi perlindungan pertamamu jika salah satu aplikasi diretas, agar menjaga data-data yang tersimpan dalam aplikasi lainnya tetap aman.

  • Aktifkan verifikasi dua langkah

Mengaktifkan verifikasi dua langkah menjadi pengaman ganda saat oknum penjahat mencuri datamu. Apabila mengaktifkan fitur keamanan ini, sebuah akun akan mendapatkan tambahan kunci akses selain password untuk dapat diakses. Beberapa contoh fitur verifikasi dua langkah ini adalah kode OTP, verifikasi biometrik (sidik jari atau scan wajah), dan kode QR.

  • Waspada terhadap tautan atau lampiran yang mencurigakan

Modus penipuan ini dikenal dengan nama phishing. Phishing mengacu pada upaya penipuan untuk melakukan tindak kriminal, mulai dari pencurian identitas, perusakan data, hingga pencurian uang. Para penipu akan mendesain pesannya sehingga tampak berasal dari perusahaan sungguhan ataupun sumber yang terpercaya.

Berawal dari disebarkannya email dan teks tiruan, lampiran atau unduhan palsu, spam kalender, bahkan diperkuat dengan panggilan telepon tipuan—untuk mengecoh agar korban memberikan informasi seperti password, OTP, nomor rekening, atau nomor kartu kredit.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Event
About Us
Join Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin