ARA dan ARB Dalam Investasi Saham

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

GUEMUDA.COM, Jakarta – Investasi saham merupakan investasi dengan risiko tinggi dan potensi keuntungan yang tinggi. Hal ini terutama terkait pergerakkan harga saham yang bisa terakumulasi setiap hari perdagangan.

Namun untuk menjaga kenaikan harga yang terlalu tinggi atau penurunan harga yang terlalu dalam, Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan batasan-batasan. Dalam hal ini batasan yang dimaksud adalah auto rejection.

Mengutip website BEI, auto rejection terjadi karena penawaran jual dan atau permintaan beli yang dimasukkan ke dalam JATS NEXT-G adalah harga penawaran yang masih berada di dalam rentang harga tertentu. Bila Anggota Bursa memasukkan harga diluar rentang harga tersebut maka secara otomatis akan ditolak oleh JATS NEXT-G (auto rejection).

Ada dua jenis auto rejection. Di antaranya auto rejection atas (ARA) dan auto rejection bawah (ARB). ARA adalah batasan kenaikan harga saham, sebaliknya ARB merupakan batas penurunan harga.

Batasan auto rejection yang berlaku saat ini sesuai Keputusan Direksi Nomor Kep-00023/BEI/03-2020 berdasarkan harga acuan. Mulai dari Rp50 sampai Rp200, batasan ARA adalah 35%, Rp200 sampai Rp5.000 sebesar 25%, sedangkan di atas Rp5.000 adalah 20%.

Sementara untuk batasan ARB, seluruh harga acuan dibatasi sebesar 7%.

Bagaimana jika saham yang kita miliki mengalami ARA atau ARB?

ARA dan ARB berpotensi dialami seluruh saham yang aktif diperdagangkan. Potensi ini muncul dari informasi atau kinerja fundamental dari perusahaan tercatat.

Pada umumnya, ARA terjadi ketika ada informasi terkait akuisisi atau aksi korporasi lainnya. Sementara ARB kerap terjadi saat suatu perusahaan dikabarkan akan bangkrut atau mengalami kerugian.

Jika saham yang kita miliki mengalami ARA, ini jelas merupakan suatu keuntungan. Tapi hati-hati, karena jika saham tersebut mengalami ARA secara beruntung dalam kurun waktu tertentu, BEI akan memberikan peringatan hingga dilakukan penghentian sementara (suspensi).

Maka, sebaiknya kembali kan pada tujuan awal berinvestasi saham. Tetapkan target return, dan investasi secara berkala. Dengan begitu, kita bisa sewaktu-waktu mengambil keuntungan (profit taking).

Sebaliknya, jika saham kita mengalami ARB, jangan terburu-buru untuk menjual. Penurunan harga saham merupakan suatu hal yang wajar. Selama belum dijual, maka status kerugian kita adalah unrealized loss.

Namun ada kalanya kita harus mengambil tindakan cut loss atau jual rugi jika merasa saham tersebut berpotensi terus menerus mengalami ARB. 

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Trending
Event
Contact Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin