Awal Kecintaan Orang Indonesia Terhadap Mi Instan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Ilustrasi mi instan.

GUEMUDA.COM, Jakarta – Semua orang suka mi instan. Kayaknya ga susah mendapati kesepakatan soal topik itu. Tua, muda, kaya, miskin, semua makan mi instan. Indonesia cinta banget sama mi instan sampai-sampai konsumsinya terbesar kedua di dunia.

Dibanding negara-negara Asia Timur kayak Tiongkok, Jepang, dan Korea, Indonesia relatif ga terlalu akrab dengan mi sebagai sumber pangan utama. Namun entah gimana jalannya, penganan mi, khususnya mi instan, jadi populer banget di Indonesia.

Asal usul mi

Catatan pertama tentang keberadaan mi muncul dari sebuah buku berjudul Eastern Han Dynasty sekitar tahun 25 – 220 Masehi. Kemungkinan mi sudah ada lebih dulu ketimbang di catatan itu karena Dinasti Han udah berdiri dari tahun 206 Sebelum Masehi. Paling gokil, pada Oktober 2005 silam, peneliti menemukan mi tertua di dunia. Ada di Qinghai, Tiongkok, dengan perkiraan usia sekitar 4.000 tahun!

Kata “mi” merupakan serapan dari dialek Hokkian atas kata “mian”. Ga jauh dari jaman itu, mi sama-sama terbuat dari tepung terigu yang diolah dari gandum. Meskipun seiring waktu ada varian mi yang ga cuma pake gandum sebagai bahan bakunya, tapi juga pake millet, beras, kentang, dll.

Nah berhubung perantau dari Tingkok ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, besar kemungkinan saat itulah tradisi kuliner mi juga ikut masuk ke Tanah Air. Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya bilang mi udah ada di Indonesia sejak jaman Majapahit. Buktinya dari Piagam Biluluk bertahun 1391 yang memuat kata “laksa” yang mana diartikan sebagai mi dalam bahasa Sansekerta.

Keberadaan mi di Indonesia bisa sepopuler sekarang ga lepas dari peran mi instan. Orang Jepang bernama Momofuku Ando adalah pencipta mi instan pada 1958. Lewat perusahaannya yang bernama Nissin, Momofuku ngeluncurin mi instan pertama di dunia. Penemuan ini sukses besar dan jadi kebanggan Jepang. Bahkan dalam sebuah survei, warga Jepang milih mi instan sebagai penemuan terbaik Jepang di abad ke-20 loh, Genks.

Mi instan pertama kali hadir berkat produksi PT Lima Satu Sankyu pada 1968. Saat itulah orang Indonesia pertama kali mengenal merek mi instan pertama, Supermi. Empat tahun kemudian, barulah Indomie muncul di pasar. Lepas dari itu, bermunculan segala jenis dan merek mi instan hingga sekarang.

Penikmat sejati

Popularitas mi instan di Indonesia otomatis berpengaruh pada bisnisnya. Kecintaan kita terhadap mi instan bikin subur usaha-usaha dari yang levelnya mikro kayak warkop dan burjo sampai korporasi besar yang memproduksi mi instan tersebut.

Sebagai catatan, data dari World Instan Noodles Association (WINA) per Mei 2021 menunjukkan negara kita sebagai konsumen mi instan terbesar kedua dengan 12,6 miliar porsi di 2020. Jauh di atas Vietnam (7 miliar porsi) yang ada di posisi ketiga, tapi juga sangat jauh dari Tiongkok sebagai konsumen terbesar mi instan dengan 46,3 miliar porsi.

Secara rata-rata, satu penduduk Indonesia melahap 61 bungkus dalam setahun. Gilanya lagi, hampir seluruh penduduk kita udah pernah makan mi instan. Sebagai produk makanan, penetrasi mi instan ini gokil banget. Terbukti dari Survei Sosial Ekonomi (SUSENAS) 2020 ada sekitar 92% penduduk kita udah pernah menyantap mi instan.

Ini sebabnya bisnis kuliner mi instan ga ada matinya. Bayangin aja saat ini konsumsi dunia terhadap mi instan mencapai 116,5 miliar porsi setahun (WINA,2020). Fortune Business Insights memperkirakan industri mi instan bernilai US$44,1 miliar atau Rp634 triliun pada 2019 dan akan terus naik sampai US$72,7 miliar atau lebih dari Rp1.000 triliun!

Makanya ga heran sebagai pasar mi instan yang besar, produsen dalam negeri juga ngelirik untuk memenuhi permintaan global. Pada 2019, volume ekspor mi instan buatan dalam negeri mencapai 151,84 ribu ton dengan nilai ekspor mencapai US$255,57 juta.

Jadi, kalau ditanya apakah orang Indonesia suka penganan berbahan mi? Selain keberadaan warkop dan burjo di berbagai sudut kota, angka-angka di atas mungkin bisa mewakili. Sebab kecintaan Indonesia terhadap mi instan terbukti ga kaleng-kaleng, Genks.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Event
About Us
Join Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin