Belajar Dari Kegagalan Bonus Demografi di Afrika Selatan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Ilustrasi anak muda di usia kerja. (Shutterstock)

GUEMUDA.COM, Jakarta – Bonus demografi itu seperti pedang bermata dua. Jika benar memanfaatkannya, negara akan benar-benar untung. Sebaliknya, kalau negara salah racikan, malapetaka hasilnya. Afrika Selatan adalah salah satu contohnya.

Afrika Selatan ini termasuk negara dengan ekonomi yang paling bagus di Afrika. Cuma sejak beberapa tahun terakhir, negara asal Nelson Mandela ini punya masalah super serius: angka pengangguran tertinggi di dunia.

Mengutip Bloomberg, laporan resmi lembaga di Afrika Selatan menyebut angka pengangguran di sana mencapai 34,4% pada triwulan kedua tahun lalu (Q2 2021). Bloomberg mencatat, angka pengangguran di Afrika Selatan itu jadi yang tertinggi dari 82 negara yang mereka monitor.

Lalu kok bisa Afrika Selatan sebagai negara anggota G20, penyelenggara Piala Dunia 2010, dan pemilik kesempatan bonus demografi itu bernasib demikian?

Pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ga cocok

Satu hal yang pasti dari fenomena bonus demografi di Afrika Selatan, mereka udah relatif sukses dalam mengendalikan laju kelahiran penduduknya. Afrika Selatan sukses mengerem rata-rata tingkat kelahiran anak dari 6,4 kelahiran pada 1950-an jadi 2,4 kelahiran aja pada 2005-2010.

Pengendalian populasi jadi syarat mutlak pertama apabila suatu negara mau memetik keuntungan bonus demografi. Cara untuk mencapainya adalah dengan menurunkan angka kelahiran dan kematian sehingga seiring waktu berjalan populasi penduduk usia produktif bisa lebih besar dari penduduk usia non-produktif.

Walaupun udah cukup berhasil dalam pengendalian populasi, Afrika Selatan gagal mempersenjatai penduduk usia kerjanya dengan pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan oleh industri. Dosen dan peneliti dari Northwest University Nombulelo Precious Mncayi dan Steven Henry Dunga dalam risetnya berjudul Career Choice and unemployment length: A study of graduates from a South African university mengatakan ada ketidakcocokan yang gede banget antara pendidikan dan keahlian yang dibutuhkan di dunia kerja.

Bahkan pada 2019, Afrika Selatan tercatat sebagai negara dengan ketidakcocokan keahlian sampai 50%. Untuk menguji fakta itu, Mncayi bikin survei dengan responden para alumni dari sebuah universitas di Afrika Selatan. Hasilnya, 53% responden memperoleh gelar di sektor perdagangan, 25% di humaniora, dan 11% di pendidikan & sains. Dari survei itu dia juga menemukan bahwa beberapa jurusan dapat kerja lebih cepat dari yang lain.

Misalnya mereka yang ambil jurusan matematika rata-rata cuma menganggur tiga bulan sampai dapat kerja. Namun mereka yang ngambil jurusan administrasi politik, manajemen publik, atau politik bisa nunggu 19 bulan untuk dapat kerja. Kendati begitu, Mncayi bilang ada faktor-faktor lain yang menentukan anak muda di sana jadi pengangguran. Contohnya sisa-sisa politik apartheid, latar belakang keluarga, institusi pendidikannya, dll.

“Kami berkesimpulan jurusan yang dipilih oleh para alumni ga hanya berpengaruh pada status pekerjaan tapi juga berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh kerja setelah lulus.”

Gejala yang sama

Situasi di Afrika Selatan itu bisa jadi pelajaran yang berharga buat pemerintah kita. Masalahnya Indonesia punya tanda-tanda masalah serupa.

Statistik Indonesia 2022 menyebutkan saat ini jumlah pengangguran di Indonesia udah mencapai 9,1 juta orang dari total 140,1 juta angkatan kerja pada 2021. Sekitar 1 juta dari total pengangguran itu adalah mereka yang pernah ngerasain bangku kuliah (sarjana/diploma).

Keadaan ini lumayan mengkhawatirkan karena ada tren meningkatnya angka pengangguran dari lulusan diploma dan universitas. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tren kenaikan itu ada dari 2018 – 2020. Pengangguran dengan latar pendidikan perguruan tinggi pada 2018 berjumlah 950.533 orang, naik jadi 955.513 pada 2019, dan melonjak karena pandemi di 2020 menjadi 1.286.464 orang. Baru di tahun ini aja jumlahnya berkurang jadi 1.064.681 orang.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Titik Handayani dalam Relevansi Lulusan Perguruan Tinggi di Indonesia dengan Kebutuhan Tenaga Kerja di Era Global

menulis kesenjangan lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja. Menurut Titik beberapa faktor yang berpengaruh pada meningkatnya pengangguran di level itu adalah kesempatan kerja yang terbatas, kualifikasi yang tidak sesuai, dan rendahnya minat berwirausaha.

Meskipun demikian, kita harus tetap optimis, Genks. Kita harus terus berusaha untuk menambah skill di usia produktif ini dan berharap kebijakan yang terbaik dari pemerintah. Jangan sampai potensi bonus demografi malah jadi terbuang sia-sia dan berakhir seperti Afrika Selatan yang punya pengangguran banyak banget.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Event
About Us
Join Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin