Bukan Bunga, Pinjaman dari Bank Syariah Berbasis Bagi Hasil

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

GUEMUDA, Jakarta – Bagi masyarakat penabung di bank, pasti memiliki kesempatan untuk mendapatkan pinjaman (kredit). Namun berbagai pinjaman di bank pasti ada konsekuensinya, yakni beban bunga yang diberikan.

Sebagian masyarakat pun enggan untuk menerima beban tersebut. Apalagi, bagi kaum muslim yang merasa ‘bunga’ adalah riba yang hukumnya haram.

Untuk itu, di Indonesia sendiri sudah cukup banyak perbankan berbasis syariah. Baik itu berbentuk bank umum, bank daerah, maupun masih sebatas unit syariah.

Mengutip Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau prinsip hukum islam yang diatur dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia seperti prinsip keadilan dan keseimbangan (‘adl wa tawazun), kemaslahatan (maslahah), universalisme (alamiyah), serta tidak mengandung gharar, maysir, riba, zalim dan obyek yang haram.

Selain itu, UU Perbankan Syariah juga mengamanahkan bank syariah untuk menjalankan fungsi sosial dengan menjalankan fungsi seperti lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai kehendak pemberi wakaf (wakif).

Seperti bank pada umumnya, bank syariah juga memberikan pinjaman. Hanya saja berbeda dengan bank secara umum, baik istilahnya yakni pembiayaan maupun beban bunganya yakni bagi hasil.

Bagi hasil dalam pembiayaan bank syariah berdasarkan akad mudharabah, akad musyarakah, atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

Inilah yang membedakan bank syariah dan bank umum lainnya.

Adapun mekanisme penghitungan bagi hasil menurut ekonomi islam idealnya ada dua macam:

Profit sharing atau bagi hasil, di mana total pendapatan usaha dikurangi biaya operasional untuk mendapatkan profit alias keuntungan bersih.

Revenue sharing, yaitu laba berdasarkan total pendapatan usaha sebelum dikurangi biaya operasional alias pendapatan kotornya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Trending
Event
Contact Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin