Halal-Haram Investasi Saham

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

GUEMUDA.COM, Jakarta – Investasi saham memang belum sepenuhnya bisa merangkul masyarakat luas. Apalagi jika melihat data jumlah investor tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang baru mencapai 2,05 juta atau masih kurang dari 1% dari total penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 270 juta jiwa.

Jangkauan saham yang masih minim ini pula yang membuat sebagian masyarakat pro dan kontra. Terutama terkait status halal dan haram.

Sejatinya, investasi saham dapat dikatakan halal yang diperkuat oleh beberapa fatwa dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). fatwa DSN-MUI adalah salah satu rujukan dalam mengembangkan pasar modal syariah Indonesia. Sampai dengan saat ini, terdapat 17 fatwa DSN-MUI yang berhubungan dengan pasar modal syariah.

Sementara ada tiga fatwa DSN-MUI yang menjadi dasar pengembangan pasar modal syariah. Di antaranya;

1.   Fatwa DSN-MUI No: 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa dana Syariah

2.   Fatwa DSN-MUI No: 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal

3.   Fatwa DSN-MUI No. 80/DSN-MUI/III/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek.

Penguatan dasar hukum kehalalan investasi saham melalui pasar modal syariah juga ditegaskan kembali oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut OJK, penerapan prinsip syariah di pasar modal tentunya bersumberkan pada Al Quran sebagai sumber hukum tertinggi dan Hadits Nabi Muhammad SAW.

Selanjutnya, kata OJK, dari kedua sumber hukum tersebut para ulama melakukan penafsiran yang kemudian disebut ilmu fiqih. Salah satu pembahasan dalam ilmu fiqih adalah pembahasan tentang muamalah, yaitu hubungan diantara sesama manusia terkait perniagaan.

Berdasarkan itulah kegiatan pasar modal syariah dikembangkan dengan basis fiqih muamalah. Terdapat kaidah fiqih muamalah yang menyatakan bahwa Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Konsep inilah yang menjadi prinsip pasar modal syariah di Indonesia.

Di sisi lain, DSN-MUI kembali menerbitkan fatwa perdagangan saham melalui pedoman fatwa Nomor 135/DSN-MUI/V/2020 tentang Saham. Fatwa ini bertujuan sebagai landasan umat muslim dalam melakukan transaksi jual beli saham di pasar modal. Dokumen tersebut bahkan ditandatangani Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Dalam fatwa itu, jual beli saham yang dimaksud adalah Saham Syirkah Musahamah. “Penerbitan dan pengalihan Saham Syirkah Musahamah boleh dilakukan dengan mengikuti ketentuan yang terdapat dalam fatwa ini,” tulis dokumen fatwa DSN-MUI.

Adapun Syirkah Musahamah adalah Perusahaan yang pendiriannya menggunakan Akad Syirkah Musahamah. Akad Syirkah yang kepemilikan porsi (hishshah) modal para mitra atau pemodal berdasarkan Modal Disetor yang dibuktikan dengan Saham. Pada prinsip isra jual beli saham suatu perusahaan wajib terbebas dari unsur riba dan unsur-unsur haram lainnya, antara lain utang berbasis riba dan/atau pendapatan yang haram.

Sampai di sini, sangat jelas bahwa transaksi jual beli saham tidak haram. Namun bagi masyarakat yang masih untuk berinvestasi saham, ada baiknya mencari lebih banyak informasi dan bertanya kepada para tokoh agam. Apalagi, saat ini sudah ada beberapa tokoh agama yang mendeklarasikan diri sebagai investor saham.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Trending
Event
Contact Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin