Investasi Saham Jangan Sekadar Ikut-Ikutan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

GUEMUDA.COM, Jakarta – Dari tahun ke tahun, minat masyarakat untuk berinvestasi saham terus meningkat. Per Februari 2021, menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) jumlah investor saham mencapai 2,05 juta, naik 21,13% dari posisi akhir 2020 sebanyak 1,69 juta.

Hanya dalam dua bulan berjalan tahun 2021, tercatat ada penambahan 358.293 investor. Catatan tersebut semakin fantastis jika ditarik lebih jauh ke belakang. Pada 2018, jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) baru mencapai 852.240. Artinya, dalam kurun waktu dua tahun saja, investor saham di Indonesia bertambah 1,2 juta atau tumbuh 140,96%.

Dalam beberapa kesempatan, manajemen BEI pernah menyampaikan, pertumbuhan jumlah investor saham meningkat sejalan dengan hadirnya teknologi digital. Fasilitas ini pula yang memudahkan masyarakat dalam berinvestasi saham karena bisa dilakukan di mana dan kapan saja selama gawai kita terkoneksi internet.

Sayangnya, edukasi mengenai investasi saham yang benar belum begitu menyeluruh kepada para investor yang tercatat itu. Sebagian masih ada yang sebatas “main” saham dan sekadar coba-coba karena tergiur untung besar. Bahkan, beberapa waktu lalu ramai petisi berjudul “Ban Pom-Pomers Saham di Indonesia” yang ditandatangani sekitar 4.700 orang.

Petisi yang ditujukan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia itu meminta para regulator pasar modal untuk menindak para pompom saham yang mulai merugikan banyak investor.

Dari sini, sangat jelas bagaimana masih banyak investor saham yang kurang memahami bagaimana memilih saham yang benar. Bukan sekadar ikut-ikutan. Bukan pula hanya bermodal informasi dari nama tenar.

Hal itu pun terbilang wajar jika melihat indeks literasi dan inklusi pasar modal Indonesia. Saat ini, tingkat literasi pasar modal berada pada level 4,9%, sementara untuk tingkat inklusi lebih kecil lagi yakni 1,55%.

Lantas, bagaimana seharusnya berinvestasi saham yang benar?

Bagi investor pemula, ada baiknya jangan dulu mulai dengan menjadi trader. Salah satu karakteristik investor ini lebih mengutamakan keuntungan jangka pendek dengan cara memantau layar perdagangan setiap hari, mengambil posisi beli berdasarkan rumor, tanpa memperhatikan fundamental perusahaan tercatat.

Maka jadilah investor yang benar-benar investor. Artinya, berinvestasi untuk keuntungan jangka panjang dengan mengandalkan fundamental sebagai dasar untuk memilih saham yang harus dibeli.

Menjadi investor juga sama dengan menabung saham. Naik turun harga saham itu hal biasa. Tapi kinerja perusahaan yang sahamnya kita pilih bisa jadi modal masa depan dengan berharap dari bagian dari keuntungan perusahaan (dividen). Syukur-syukur, harga sahamnya ikut naik sehingga tetap bisa mendapat keuntungan dari kenaikan harga (capital gain).

Satu hal lain yang perlu para investor pemula tahu, setiap investasi punya risiko. Semakin tinggi keuntungan yang akan kita dapat, semakin besar pula risiko yang akan kita hadapi.

Pada satu kesempatan, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan, produk-produk di pasar modal (termasuk saham), sifatnya bisa volatile. Maka perlu analisis fundamental dan angan terbawa dengan analisis teknikal yang sewaktu-waktu bisa terkoreksi.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Trending
Event
Contact Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin