Investor Reksadana Harus Tahu Strategi Dollar Cost Averaging dan Lump Sum

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

GUEMUDA.COM, Jakarta – Bagi investor reksadana, ada dua strategi investasi yang bisa kita lakukan. Dua strategi tersebut adalah dollar cost averaging (DCA)dan lump sum.

Dalam menerapkan dua strategi investasi itu, investor reksadana akan mendapat keuntungan dan risikonya masing-masing. Pasalnya, dua strategi itu berbeda dari sisi penempatan dana kita.

Sebelum masuk ke skema penempatan dana baik DCA dan lump sum, ada baiknya untuk memahami pengertian dua strategi ini.

Mengutip bibit.id, strategi investasi DCA berarti nabung rutin setiap bulan secara konsisten. Sedangkan strategi investasi lump sum berarti menaruh seluruh uang investasi kamu sekaligus.

Dari pengertian di atas, maka kita perlu tahu bagaimana kelebihan dan kekurangan dari strategi DCA dan lump sum.

Harga reksadana

Dengan strategi DCA, jika kita berinvestasi pada satu reksadana, maka harga yang kita dapat akan terus berubah.

Misalnya, kita membeli reksadana saham XYZ pada harga Rp1.000 per unit dengan dana Rp1.000.000. Satu bulan kemudian, harga reksadana saham XYZ naik jadi Rp1.100 dan kita kembali membelinya dengan dana Rp1.000.000.

Dari dua kali pembelian itu, total dana kita menjadi Rp2.000.000, sementara harga reksadana saham XYZ yang kita miliki menjadi Rp1.050. Kondisi ini akan berubah jika kemudian hari harga reksadana saham XYZ justru turun dari harga awal yang kita beli.

Sementara untuk strategi lump sum, perubahan harga pada reksadana yang kita miliki akan mengikuti pasar. Pasalnya, kita hanya sekali menempatkan dana pada saat melakukan investasi pertama kali.

Jenis reksadana

Oleh karena itu, dua strategi ini perlu memerhatikan jenis reksadana yang kita pilih. Untuk DCA sebaiknya kita terapkan pada reksadana yang harganya fluktuatif seperti reksadana pendapatan tetap, reksadana saham, maupun reksadana campuran.

Sementara untuk strategi lump sum sangat cocok bagi reksadana yang harganya stabil seperti reksadana pasar uang.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Trending
Event
Contact Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin