Keluarga Meninggal Punya Utang di Bank, Ahli Waris Harus Apa?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

GUEMUDA.COM, Jakarta – Pandemi Covid-19 meninggalkan banyak duka cita. Pasalnya tidak sedikit korban jiwa yang melayang akibat virus corona ini. Di Indonesia saja, hingga 7 November 2021 tercatat 143.545 orang yang dinyatakan meninggal karena Covid-19.

Berita duka cita seperti ini juga tidak hanya terjadi pada masa pandemi saja. Setiap minggu, bulan, bahkan setiap hari ada saja orang yang meninggal.

Dari sini, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan masyarakat jika pada akhirnya ada keluarga atau orang terdekat kita yang meninggal. Terutama yang memiliki catatan utang ke bank, baik kredit pemilikan rumah (KPR), kartu kredit, atau jenis kredit lainnya.

Sebagian orang sempat berpikir jika kita meninggal dunia bagaimana nasib utang-utang yang dimiliki? Akankah otomatis akan lunas dengan kondisi peminjam yang meninggal dunia atau akan jadi pindah tangan? Beberapa orang pasti pernah memikirkan hal tersebut tetapi tidak mendapatkan jawaban yang pasti.

Ternyata, jika seorang debitur memiliki pinjaman atau ikatan utang-piutang, maka utang tersebut harus dilunasi oleh debitur meskipun debitur meninggal dunia sebelum utangnya lunas. Lantas bagaimana jika debitur atau peminjam meninggal dunia? Utangnya dapat diwariskan kepada ahli warisnya. Hal ini berdasarkan pada ketentuan hukum perdata Pasal 833 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata). Artinya, untuk urusan utang piutang memang sudah ada hukumnya.

Kita ambil contoh. Misalnya pria bernama A merupakan debitur KPR di suatu bank untuk jangka waktu 15 tahun. A kemudian sudah melakukan pembayaran cicilan dalam waktu 10 tahun sehingga tersisa 5 tahun. Namun A meninggal akibat sakit.

Di sini, ahli waris harus segera melapor ke bank. Tentunya dengan beberapa ketentuan, mulai dari surat kematian, KTP, kartu keluarga, dan lainnya.

Biasanya, bank punya kebijakan terkait nasabah atau debiturnya yang meninggal. Misalnya sebagai debitur KPR, bank akan melihat track record pembayaran cicilan debitur yang meninggal tersebut. Jika selama hidupnya berjalan lancar dan tanpa tunggakan dan memiliki asuransi jiwa, maka pada beberapa kasus asuransi jiwa itu yang akan melunasi KPR.

Sementara jika debitur yang meninggal tidak memiliki asuransi jiwa, maka ahli waris yang akan menanggung utang tersebut. Ahli waris akan menjadi pihak yang ditunjuk nasabah pada surat wasiat dan setelah melunasi utang KPR, maka rumah tersebut akan menjadi milik ahli waris.

Lain lagi jika A merupakan debitur kredit kendaraan. Biasanya ada jaminan fidusia pada kredit kendaraan, khususnya saat mengangsuur kredit ke leasing. Jaminan fidusia ini merupakan hak kepemilikan suatu benda atas dasar ketentuan dan kepercayaan tertentu dapat dialihkan ke dalam penguasaan pemilik benda.

Asurasi juga jadi andalan jika A merupakan debitur kartu kredit. umumnya asuransi kartu kredit akan memberikan pertanggungan nasabah dari beberapa risiko mulai dari risiko kematian, penyakit kritis, cacat tetap, dan keadaan cacat sementara.

Jika debitur memiliki asuransi, dan saat debitur meninggal dunia, pihak asuransi akan melunasi seluruh tagihan utang kartu kredit secara langsung. Bahkan beberapa perusahaan asuransi akan melunasi tagihan serta memberikan santunan uang tunai.   

Itulah yang  harus kita tahu jika keluarga atau orang terdekat kita merupakan debitur bank atau memiliki utang ke bank atau pun lembaga pembiayaan. Ingat juga, baca dengan seksama ketentuan yang ditetapkan bank sebelum meminjam dana.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Trending
Event
Contact Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin