Kisah Awal Suksesnya Bonus Demografi di Korea Selatan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Pemandangan di perkotaan di Korea Selatan.

GUEMUDA.COM, Jakarta – Ada yang pernah sadar ga sih bahwa Korea Selatan yang kita lihat sekarang beda banget dengan Korea Selatan yang dulu. Boro-boro drakor dan K-Pop, warga miskin aja banyak banget waktu itu. Cuma berkat bonus demografi, Korea Selatan berhasil jadi negara maju seperti sekarang.

Jauh sebelum ada Blackpink, Parasite, Samsung, dan Son Heung Min, Korea Selatan adalah salah satu negara paling miskin di dunia. Pada 1950-an aja, pendapatan per kapita mereka cuma 67 dolar AS. Mereka juga penerima bantuan yang cukup rutin waktu itu, terutama dari sekutu besar mereka Amerika Serikat. Kontras banget dengan status mereka saat ini sebagai negara terkaya ke-10 dunia dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) 1,6 triliun dolar atau sekitar Rp23.000 triliun, pendapatan per kapita sekitar Rp484 juta berdasarkan data Bank Dunia.

Korea Selatan bisa kayak gitu berkat pemanfaatan bonus demografi yang tepat. Seperti negara-negara miskin lain, Korea Selatan dulunya juga dihantui dengan membludaknya penduduk di bawah usia produktif sehingga tanggungan keluarga jadi berat.

Langkah pertama yang Korea Selatan ambil untuk mengurai semua masalah itu adalah dengan mengontrol populasi penduduk. Struktur penduduk Korea Selatan pada 1950 berbentuk piramida banget dengan angka harapan hidup cuma di bawah 47 tahun.

Layanan rumah ke rumah

Pemangku kebijakan Korea Selatan pakai cara yang agresif buat mengendalikan laju pertumbuhan populasinya dengan befokus pada keluarga berencana dan layanan kesehatan masyarakat. Keluarga berencana buat memastikan punya anak sedikit akan meringankan beban keluarga, sementara layanan kesehatan masyarakat untuk membantu usia harapan hidup terus bertambah.

Sumber: United Nations Population Division, World Population Prospects: The 2010 Revision (New York: United Nations, 2011)
Sumber: United Nations Population Division, World Population Prospects: The 2010 Revision (New York: United Nations, 2011)

James N. Gribble dari Population Reference Bureau (PRB) mengatakan pusat layanan kesehatan masyarakat Korea Selatan waktu itu ga dapat sambutan yang diharapkan. Alhasil alih-alih ngedorong warga datang ke pusat layanan kesehatan, pemerintah bikin program layanan kesehatan pintu ke pintu.

Ternyata cara itu jauh lebih efektif. Selain mengedukasi pentingnya keluarga berencana, layanan dari pintu ke pintu itu juga bikin pelatihan, dan suplai alat kontrasepsi. Hasilnya, angka kelahiran Korea Selatan berkurang drastis dari 6,3 kelahiran dari satu perempuan pada 1960 menjadi 2,2 pada 1985 dan turun lagi jadi 1,2 pada 2005.

Ganti orientasi edukasi

Agar tetap sejalan dengan tujuan bonus demografi, Korea Selatan ga berhenti di pengendalian populasi aja. Korsel ganti arah kebijakan pendidikan yang tadinya fokus ke wajib belajar sekolah dasar jadi pendidikan berorientasi produksi pada periode 1950-an hingga 1960-an.

Mereka melakukan itu karena kebijakan wajib belajar cuma bisa menyentuh 54% anak usia sekolah. Sementara dengan berganti ke kebijakan baru, mereka bisa menjangkau anak usia sekolah yang lebih luas karena ada penekanan di pengetahuan dan kemampuan sesuai kebutuhan ekonomi. Hasilnya 97% anak usia sekolah merasakan bangku pendidikan pada 1990.

Dua hal ini, pengendalian populasi dan pendidikan, menjadi fundamental yang penting banget bagi sebuah negara dalam mengejar potensi bonus demografi. Ketika dua hal itu berjalan, seenggaknya program bonus demografi suatu negara udah berada di jalan yang benar.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Event
About Us
Join Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin