Memahami Istilah Yield atau Imbal Hasil Obligasi

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

GUEMUDA.COM, Jakarta – Investasi obligasi akan memberikan pendapatan tetap bagi investornya. Pendapatan ini datang dari kupon yang ditawarkan penerbit obligasi dan akan diterima investor secara tetap dalam kurun waktu atau jangka waktu tertentu. 

Selain mendapat pendapatan tetap, investor juga bisa melakukan transaksi jual beli obligasi di pasar sekunder. Pada posisi ini, investor akan mengenal istilah yield atau imbal hasil.

Yield atau imbal hasil merupakan tingkat pengembalian investasi sebagai persentase dari jumlah investasi awal. Dalam obligasi, yield mengukur tingkat pengembalian berdasarkan tingkat suku bunga (kupon), bukan selisih kenaikan harga (capital gain).

Di pasar sekunder, begitu harga obligasi itu berubah, yield-nya juga akan berubah. Yield ini berbanding terbalik dengan harga obligasi, sehingga bila yield turun semakin rendah menandakan harga yang semakin tinggi di pasar karena mengindikasikan banyaknya permintaan.

Sebagai contoh, kita membeli obligasi senilai Rp10.000.000 dengan masa tenor 5 tahun. Obligasi ini menawarkan kupon sebesar 10% per tahunnya. Harga obligasi saat ini Rp8.000.000, maka yield saat ini bisa dihitung dengan: Rp10.000.000 x 10% / Rp8.000.000 x 100% = 12,5%.

Dari contoh itu, kita tahu bahwa rasio pembayaran kupon berkala obligasi (jumlah bunga tetap asli) dibagi dengan nilai pasar saat ini dan dinyatakan sebagai persentase. Artinya, imbal hasil obligasi menunjukkan kepada investor berapa persen yang akan mereka hasilkan dari investasi (pengembalian) mereka.

Salah satu faktor yang mempengaruhi yield obligasi adalah suku bunga. Setiap perubahan suku bunga akan diikuti dengan perubahan yield. 

Dalam hubungan dengan sejumlah konsep tersebut, apabila suku bunga meningkat maka harga obligasi akan turun, begitupula sebaliknya. Sejalan dengan hal tersebut, apabila harga obligasi turun maka yield obligasi akan meningkat.

Hubungan ini dikenal dengan nama risiko suku bunga (interest rate risk) atau salah satu risiko yang dihadapi oleh investor obligasi.

Hubungan terbalik antara suku bunga dan harga obligasi ini bisa dianalogikan dengan sebuah papan jungkat-jungkit yang biasa dimainkan di taman kanak-kanak atau taman publik. Ketika satu sisi papan tersebut naik maka sisi lain papan itu turun.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Event
About Us
Join Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin