Pahami Risiko Delisting dalam Berinvestasi Saham

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

GUEMUDA.COM, Jakarta – Menanamkan modal untuk investasi tidak akan selalu untung, karena ada risiko yang harus kita tanggung. Termasuk investasi saham yang di dalamnya ada risiko penurunan harga saham, hingga kebangkrutan perusahaan yang sahamnya kita miliki.

Risiko-risiko seperti itu perlu dipahami masyarakat, terutama yang menjadi investor pemula. Terlebih mengenai risiko terkait kebangkrutan perusahaan.

Dalam dunia pasar modal, kebangkrutan perusahaan akan membuat harga sahamnya terus turun hingga menyentuh level terendah Rp50. Setelah itu, bisa jadi harga saham perusahaan tersebut tidak bergerak sehingga pemegang saham mengalami potensi kerugian.

Tidak hanya itu saja, perusahaan terbuka yang mengalami masalah hingga kebangkrutan bisa ‘ditendang’ (penghapusan/delisting) dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Artinya, saham perusahaan tersebut tidak bisa lagi diperdagangkan. Modal yang kita tanam pun bisa hilang begitu saja.

Oleh karena itu, kita perlu tahu apa itu delisting. Setidaknya ada dua delisting yang ada sesuai dengan penyebabnya.

Delisting sukarela (voluntary delisting) adalah delisting saham secara sukarela yang diajukan oleh emiten sendiri karena alasan tententu. Biasanya delisting ini terjadi karena beberapa penyebab diantaranya emiten menghentikan operasi, bangkrut, terjadi merger, tidak memenuhi persyaratan otoritas bursa, atau ingin menjadi perusahaan tertutup.

Selanjutnya, delisting paksa (force delisting) terjadi ketika perusahaan publik melanggar aturan dan gagal memenuhi standar keuangan minimum yang ditetapkan oleh otoritas Bursa. Delisting ini biasanya terjadi karena emiten tidak menyampaikan laporan keuangan, keberlangsungan bisnis perusahaan dipertanyakan, dan tidak ada penjelasan selama 24 bulan.

Jika mengalami hal ini, bagaimana nasib dana investor?

Terdapat dua hal yang dapat dilakukan investor ketika sahamnya terkena force delisting. Pertama, Investor dapat menjual saham tersebut di pasar negosiasi, yaitu pasar di mana efek diperdagangkan secara negosiasi atau tawar menawar.

BEI akan memberikan kesempatan dengan membuka suspensi saham yang akan delisting dalam waktu tertentu, biasanya beberapa hari. Namun suspensi hanya dibuka di pasar negosiasi. Di dalam rentang waktu tersebut investor disarankan menjual saham yang akan delisting paksa.

Kedua, Investor bisa membiarkan sahamnya. Beberapa perusahaan yang delisting biasanya tetap menjadi perusahaan publik dan bisa relisting kembali walaupun kemungkinannya sangatlah kecil. Saham milik investor tersebut masih akan tetap ada, hanya saja biasanya perusahaan yang delisting paksa adalah perusahaan bermasalah dan sahamnya tidak memiliki nilai.

Sampai di sini paham, kah? Jika begitu, maka selektif lah memilih saham, investasi secara berkala, dan pilih saham berdasarkan kinerja fundamentalnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Trending
Event
Contact Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin