Segala Hal yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Ekonomi Sirkular

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Ilustrasi ekonomi sirkular.

GUEMUDA.COM, Jakarta – Indonesia dan seluruh dunia punya masalah yang sama hari ini yakni krisis lingkungan. Memang ada beragam cara menghadapinya, tapi tentu ga semuanya efektif untuk menyelesaikan krisis lingkungan ini.

Selain konsep ekonomi hijau, ekonomi sirkular adalah salah satu jawaban yang menurut para ahli cukup efektif buat mengurangi kerusakan lingkungan akibat kegiatan ekonomi manusia.

Menurut United Nations Economic Comission for Europe (UNECE) ekonomi sirkular adalah paradigma ekonomi baru dan inklusif yang bertujuan meminimalkan polusi dan limbah, memperpanjang siklus manfaat produk, dan memungkinkan berbagi aset fisik dan alam yang luas. Istilah ini pertama kali muncul pada 1966 dalam sebuah buku karangan Kenneth E. Boulding.

Pendekatan ekonomi sirkular meliputi lima hal yang biasa disebut 5R yaitu: Reduce, Reuse, Recycle, Refurbish, dan Renew.

Reduce ini pendekatan yang mengarah gimana caranya sebuah kegiatan ekonomi bisa mengurangi seminimal mungkin limbah.

Reuse lebih menekankan ke pemakaian berulang produk yang masih punya nilai kegunaan. Contoh beli mobil atau motor bekas.

Recycle secara harfiah berarti daur ulang. Pendekatan ini bisa tercapai dengan memproses material yang udah jadi limbah menjadi bentuk baru yang punya nilai baru. Contoh seperti botol plastik yang bisa kamu daur ulang jadi celengan, pot, dan lainnya.

Refurbish atau rekondisi sedikit beda dengan daur ulang. Yang bikin beda dari daur ulang adalah refurbish melewati proses manufaktur ulang sampai akhirnya benda yang nilainya tidak atau kurang bernilai jadi layak dipakai kembali. Contoh hape iPhone dan Android yang punya versi refurbished.

Renew menitikberatkan pada penggunaan material dan energi yang bisa diperbarui. Misal plastik bungkus biasanya cuma berakhir jadi sampah yang mana susah ga bagus buat lingkungan karena susah terurai. Maka muncul opsi kertas bungkus (paper bag) yang lebih mudah terurai dan diperbarui.

Kelima hal tadi penting banget dimulai karena krisis lingkungan buka cuma omongan kosong, Genks. Di Indonesia misalnya pada 2019 menghasilkan sampah makanan sampai 57,4 juta ton. Kalau ga dicegah, angkanya bisa naik lebih dari 50% jadi 88,6 juta ton pada 2030. Sayang banget kan.

Itu baru dari satu sektor. Di luar sektor makanan dan minuman pemerintah nargetin bisa memperlambat laju limbah di empat sektor lainnya yaitu tekstil, konstruksi, ritel dan grosir, dan elektronik.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on pinterest

RELATED

EDITOR'S PICK

Home
Categories
Event
About Us
Join Us

What would
you read?

Popular Post

Terima kasih telah mendaftar!

share with the world

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin